Awalnya, Islam yang Ia Tahu Hanyalah Seputar Arab

Posted April 5, 2011 by rabblevoice
Categories: Mu'alaf

Pada tahun 1990-an, John Clenn Howel, pindah dari rumahnya di area terpencil Ohio ke kota terbesar ketiga di Amerika, Chicago, Illinois. Di sana ia membangun hubungan dengan orang-orang yang ia kenal lewat acara musik underground di mana ia terlibat pula. Howell tinggal di Chicago selama lima tahun, masa yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Lingkungan tempat ia tinggal ia luar biasa beragam dengan imigran mendominasi. Ia menganggap orang-orang disekitarnya sangat menarik. “Orang asing justru mayoritas dan saya adalah minoritas,” tulisnya dalam file catatan di akun Facebooknya.

Di sini ia memahami, bahwa bergaul dengan orang Serbia, Kroasia, Albania, Ukrania, Gipsi, Yahudi Hasidik, Khaldea, Suriah, Armenia, Rusia, Yunani, Pakistan, Afghanistan, India, Tibet dan sebagianya, adalah wajar. Namun bila bersentuhan dengan orang-orang nomaden berambut gimbal yang menggembala domba dari Asia Barat, atau pria Muslim tua dengan janggut dan turban, bukan hal normal.

Howell juga menyaksikan sejumlah wanita berpakaian ‘misterius’, membungkus tubuhnya dari atas hingga kaki dengan gaun hitam. Ia juga mendengar orang-orang berbicara dalam bahasa campuran. “Semua itu saya alami tepat di tengah situasi ultra-urban kota Chicago,” ungkapnya. Bagi seseorang yang datang dari kawasan pedalaman terpencil, konstalasi masyarakat macam itu sangat memikatnya

Ketika mulai berteman dengan beragam identitas di lingkunganya, kesadarannya juga mulai mengalami perubahan besar. “Banyak tetangga saya ternyata adalah Muslim. Begitu stereotip buruk yang pernah saya terima muncul dalam ingatan, saya menyadari, betapa semua itu salah, tak bisa dipercaya dan sekedar propaganda,” ujarnya.

Sebelum ke Chicago, Howell rupanya tidak pernah melakukan kontak sama sekali dengan Muslim di Ohio. Ia pun terdorong untuk memahami siapa sebenarnya mereka. “Itu saya lakukan demi menerobos batasan prasangka sosial yang saya usung selama ini dalam budaya Amerika,” kata Howell.

Teman Muslim pertamanya adalah seorang pria Afghanistan, bernama Sami berprofesi sebagai sopir taksi. Ia berusia sebaya Howell dan tinggal di sebelahnya persis. “Saya ingat pertama kali pergi brsamanya dan kami berkendara berkeliling di sekitar, saat itu saya berpikir, ‘kamu harus berhati-hati, orang ini adalah Muslim dan tidakkah kamu selalu diberitahu bahwa orang-orang Muslim itu berbahaya dan mungkin akan menggorok lehermu demi mencuri apa pun dalam kantongmu?’

Betapa jahatnya itu! “Tapi itulah yang diajarkan oleh masyarakat dan budaya saya. Beruntung, saya tidak memedulikan omong kosong itu dan saya gembira saya tak terkontaminasi dengan itu,” ujarnya. Sebaliknya, ia menilai Sami adalah pria lucu yang menceritakan kisah terbaik dari pengalaman hidupnya. “Saya akhirnya dekat dengannya dan seluruh keluarganya, sungguh pengalaman yang memperkaya hidup.”

Berpikir mundur kembali ke tahun-tahun sekolah dasar, Howell masih mengingat jelas sebuah pernyataan dari gurunya yang berkata, “Islam adalah agama pedang, dan siapa pun yang  hidup dengan pedang akan mati dengan pedang.”

“Kini setelah hampir sepuluh tahun menjadi Muslim, saya tidak pernah sekali pun mendengar hal macam itu dalam Islam,” ujarnya. Howell mengaku kini menyadari betul bagaimana pengondisian anti-Islam telah dimulai sejak masa kanak-kanak.

Dalam sekolah dasar ia juga mendapat tontonan film-film anti-Islam, seperti “El Cid” yang menggambarkan Muslim sebagai manusia jahat. Saat tumbuh besar, Howell kerap mendengar teman-teman sekolahnya menggunakan julukan seperti ‘kepala handuk’, ‘negro pasir’, ‘penunggang unta’ untuk menyebut Muslim.

Beberapa guru sekolah bahkan mengklaim bahwa Muslim adalah ‘orang yang kehitam-hitaman’. Ia mengaku beruntung keluarganya bukan pengolok, melainkan tipe yang menghormati dan menghargai orang lain. “Itulah yang menanamkan nilai-nilai dan etika moral seimbang dalam diri saya,” tutur Howell.

Timbul pertanyaan serius pada Howell, “Bagaimana mungkin budaya masyarakat Ameika begitu dungu dan penuh prasangka terhadap Islam. Ini adalah agama tua dari Timur Tengah, tapi ironisnya masyarakat saya sendiri juga mempraktekkan agama dari Timur Tenggah (Kristen) dan mereka juga berbagi nabi yang sama.”

“Saya jadi ingin tahu apa itu Muslim dan agama mereka, Islam,” ujarnya. Howell mulai mencari jawaban atas banyak pertanyaan di dalam kepalanya. “Saya bukan hanya bertanya pada para Krisitiani. Saya juga mulai bertanya langsung pada Muslim,” tutur Howell. Dari sanalah ia belajar dan menjumpai bahwa Islam sungguh diluar yang ia sangka.

“Saya memahami bahwa Muslim berasal dari mana pun dan dari setiap ras. Ini sangat bertentangan dengan semua catatan perihal Muslim yang seolah-olah berkutat pada ras Arab,” kata Howell. Fakta yang ia pelajari, Arab justru minoritas di kalangan Muslim. Ketika menengok sekitar, ia menemukan Muslim beraneka ragam. “Saja jumpai Muslim Cina, Filipina, Rusia, India, Turki, Persia, Latin, Afrika, Eropa dan juga Amerika berada di sekeliling saya.”

Keingintahuan besar John Clenn Howell terhadap Islam terus mengusiknya. Ia tak sekedar bertanya tapi juga mengamati mereka. “Terlihat gamblang bagi saya bahwa ada yang salah dengan cara masyarakat memandang Muslim secara keseluruhan,” tuturnya.

Hanya dengan obeservasi sederhana pria kelahiran 17 Oktober 1973 silam ini cukup yakin untuk menyimpulkan bahwa mayoritas besar Muslim adalah normal. Malah, ia menilai mereka sama sekali jauh dari potret fanatik haus darah yang kerap dimunculkan di televisi.

Mengingat dalam Muslim ada pula individu yang menyimpang, maka, ia berpikir Islam pun  bukan ajaran sesat. “Sama dengan Nasrani yang juga tidak terkait dengan ulah orang-orang semacam Timothy McVeigh, David Koresh dan Jim Jones,”

Rasa penasaran Howell berlanjut. Ia pun mulai membaca Al Qur’an dan diluar dugaan, banyak isi dalam kitab suci itu yang akrab baginya. “Ini sangat mengejutkan. Pasalnya ketika saya membuka Al Qur’an saya tidak berharap menemukan sesuatu yang saya kenali,” tuturnya.

Islam, menurut Howell, sangat berbeda dengan yang ia sangkakan. “Saya langsung memahami dan sepakat dengan pilar utama yang merupakan pengakuan bahwa tidak ada sesuatu yang layak disembah selain Tuhan.

“Tiba-tiba saya meyakini semua penjelsan tentang Tuhan yang saya temukan di Al Qur’an. Di antara semua penjelasan yang paling mempengaruhi saya adalah kalimat dalam Surah Al Ikhlas,” tuturnya.

Ia juga mengetahui bahwa Allah, dalam nama Arab adalah Tuhan yang sama yang diserukan para Nabi untuk disembah, Tuhannya Ibrahim, Musa, Jesus dan Muhammad saw. “Informasi yang mengungkap kebenaran Allah, ditambah dengan sebuah pernyataan dari Kitab-Nya memberi cukup alasan bagi saya untuk bertindak.

Pernyataan itu adalah, “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribabah kepada Ku (Adh-Dhariyat 51:56)

Howel meyakini Islam adalah agama asli, mutlak, murni monoteisme dan menolak total bentuk-bentuk politeisme atau menyembah berhala atau dewa. “Sangat jelas sangat jelas bagi saya bahwa ini adalah satu-satunya jalan hidup sempurna bagi setiap manusia yang bebas dari unsur ras dan ideologi. Pencarian saya terhadap Kebenaran Universal menuntun saya kepada Islam,”

Pada 1999 ia mengambil keputusan besar. Ia memeluk Islam kala berusia 26 tahun. “Itu mengubah  hidup saya keseluruhan dan saya mulai mempraktekkan ajaran Islam langkah demi selangkah, sedikit demi sedikit,”

Awalnya ia tidak memberitahukan hal itu kepada teman-teman dekatnya karena takut menghadapi penolakan dan ejekan. Toh, akhirnya mereka mengetahui ketika ia mulai mengenakan baju-baju Muslim dan mulai menolak melakukan perbuatan buruk.

“Terus terang, saya terasing dari banyak orang. Saya biasa pergi dengan mereka, dan perubahan ini membuat saya berjarak dengan teman-teman,” ujarnya.

Beberapa teman masih berhubungan–namun dengan sikap hati-hati. “Akhirnya setelah bertahun-tahun mereka yang benar-benar dekat tahu bahwa saya masih seperti  Howell yang dulu, akhirnya mereka menghormati keputusan saya apa adanya,” tutur Howell kepada Republika.co.id lewat surat elektroniknya pekan lalu.

“Saya memutus hubungan dengan masa lalu dan saya tidak lagi menoleh kebelakang. Saya berupaya sangat keras membersihkan diri,” tuturnya. Howel mengakui itu adalah hal terberat baginya.

“Saya akui, gaya hidup sebelum masuk Islam bisa membunuh saya bila terus saya lanjutkan. Saya banyak bereksperimen dengan hal berbahaya, termasuk menggunakan obat dan narkotika ketika mencoba meluaskan kesadaran untuk mencari kebenaran,” tutur Howell dalam suratnya.

Ia mengaku bukan orang yang religius. “Saya sendiri tidak pernah membayangkan diri saya bisa menjadi religius,” imbuhnya.

Saat ini, menurut Howell, kesulitan paling nyata setelah memeluk Islam ialah berjuang mengatasi dirinya sendiri. “Butuh perjuangan mengubah kehidupan agar sejalan dengan Islam, terutama di negara non-Muslim dengan orang-orang yang jahil, tak peduli dan salah memahami Islam,” ujarnya.

“Tapi bila anda bertanya kepada saya sepuluh tahun lalu, saya tak bisa berujar seperti ini,” kata Howell. “Semua berubah menjadi lebih baik dari yang saya harapkan dan itu tidak lain karena Allah yang telah memandu saya. Saya sungguh bersyukur.”

“Semua orang sama dan sederajat seperti gigi-gigi sisir,” ujarnya membuat analogi. “Semua adalah anak cucu Adam dan diciptakan dari tanah. Tak ada yang superior, tak berlaku pada Arab dibanding non-Arab atau kulit putih terhadap kulit hitam, kecuali ketakwaan mereka,” tegasnya.

Jadi Penyanyi Rap Kaya & Tenar tak Bikin Amir Damai

Posted January 1, 2011 by rabblevoice
Categories: Uncategorized

Amir Junaid Muhadith lahir di Chauncey Lamont Hawkins, Harlem, New York, Juni, 35 tahun silam. Ia lebih dikenal dengan nama panggungnya, Loon, mantan rapper Afro-Amerika, salah satu anggota Bad Boy Records milik Sean P. ‘Diddy’ Comb

Saat bersama Bad Boy, Amir mengaku tidak pernah merasakan kepuasan pribadi meskipun menikmati puncak kehidupan materi, kesejahteraan, sukses dan ketenaran. Seberapa keras ia berupaya, ia mengaku tak merasakan kedamaian di dalam dirinya.

“Loon bekerja di luar sistem diri saya,” ujarnya mengenang sosoknya menyandang nama Loon ketika bergabung dengan Bad Boy “Kini saya bahagia menerima Islam dan menemukan kedamaian dalam benak, sesuatu yang selalu saya cari dalam bisnis musik. Terima kasih kepada Islam, sehingga saya mampu melengkapi pencarian dan kini saya sangat merasa damai. Bad Boys sudah usai. Saya kini dapat anda panggil “good boy.” paparnya.

Amir mengucapkan syahadat pada Desember 2008 silam ketika melakukan tur di Dubai, Uni Emirat Arab. Kisah hidupnya dimulai dari tumbuh besar di lingkungan terisolir (ghetto) khusus kulit hitam di Harlem, New York,  menjadi anggota geng jalanan hingga membentuk grup rap dan akhirnya menyadari kebenaran Islam sangat menginsipirasi kaum muda, terutama kulit hitam di AS

Kabar bahwa ia masuk Islam pun mendapat slot khusus dalam tayangan Al Jazeera, satu-satunya stasiun jaringan berita independen di Timur Tengah. Dalam pernyataan publiknya, Loon mengatakan kedamaian dari dalam hanya bisa diperoleh dengan menyerahkan diri kepada satu tuhan.

“Hidup untuk sesudah mati, bukan untuk kehidupan saat ini, adalah kepuasan dalam meyakini, memuja dan memohon kepada Allah,” ujarnya. “Itulah mempraktekkan agama Islam yang indah.”

Ketika akhirnya memeluk Islam, sempat muncul pertanyaan apakah Amir masih akan mengejar karir sebagai penyanyi rap? “Saat ini saya fokus mempelajari Islam dan memperluas pengetahuan tentang cara hidup islam,” paparnya. “Berada di posisi yang mempengaruhi, saya pertama-tama harus mampu melindungi diri sendiri,” ujarnya.

Ia menilai media kadang mencoba menggunakan transisi yang dilakoni para artis sebagai celah untuk mengolok-olok Islam, atau keyakin apa pun yang mungkin dipilih seseorang. “Namun Allah tahun yang terbaik, mungkin saya akan kembali ke rap,” ungkapnya.

Namun kemudian, ia mengacu pada lagu Busta Rhymes, yang dipengaruhi budaya arab “Arab Money’. Lagi itu memasukkan fitur teks ayat-ayat Al Quran dalam musiknya.

“Pemerisa terbesar yang dijangkau sebagian besar artis rap khususnya berada di Klub. Jadi bisa dibayangkan, orang-orang dalam klub melantunkan ayat-ayat atau hal-hal berkaitan dengan Islam, itu sangat salah,” ujarnya.

“Pengucapan dan kata-kata adalah hal yang selama ini selalu saya perhatikan. Saya memiliki kemampuan liris yang bisa menjadikan Islam menjadi indah. Namun, sulit untuk berjalan dengan lurus dalam garis ketika ada musik di latar yang memberi ritme tarian, atau membuat seseorang tak mampu memahami pesan sesungguhnya yang kita bawa. Kita sungguh harus berhati-hati,” ujarnya.

Sumber : republika.

Loon Images before Muslim

________________________________________________________________

Loon Images after Muslim

Islam Meng-Esa-kan Allah dan Menyatukan Ummat Manusia

Posted November 24, 2010 by rabblevoice
Categories: Uncategorized

Oleh: Dr. Jefry Lang

(dikutip dari Buku karangan Jefry Lang yang berjudul “Bahkan Malaikat Pun Bertanya”, hal 218-221)

Sejak seseorang bergabung dengan komunitas muslim, baik melalui kelahiran atau konversi agama, syahadat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang itu. Syahadat selalu dikumandangkan dalam panggilan sholat, pada awal acara-acara besar, dibaca paling tidak sembilan kali dalam sholat lima waktu, diserukan secara spontan oleh kaum mukmin dalam saat-saat gembira atau terkagum-kagum, dan dengan pelan didesahkan oleh kaum muslim sewaktu mereka merenungkan kebesaran dan keagungan Allah.

Di samping itu, syahadat menjadi pernyataan gaya hidup yang didasarkan pada Al-Quran dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad. Bagi kaum muslim, Al-Quran adalah Kalam Allah yang diwahyukan, dan sunnah Nabi (secara harfiah sunnah berarti “jalan”) adalah Kalam allah yang diterapkan secara sangat sempurna. Ketika ‘A’isyah, istri Nabi Muhammad, ditanya tentang akhlak Nabi selama hidup beliau, ia menjawab, “Akhlak Nabi adalah Al-Quran.” Jawaban ‘A’isyah mengungkapkan dengan sangat baik bagaimana kaum muslim memandang hubungan antara kitab suci mereka dan Rasulullah.

Syahadat adalah titik awal kehidupan seorang muslim, baik secara harfiah maupun kiasan. Ini aalah landasan yang di atasnya berpijak komunitas orang mukmin dan juga sumber persatuan dan kekuatan mereka. Inilah batas yang melindungi mereka dan garis demarkasi yang harus diseberangi bila seseorang ingin bergabung dengan mereka.

Seperti mualaf lainnya, saya tidak akan pernah bisa melupakan syahadat pertama saya. Kesaksian itu merupakan momen paling sulit tapi paling membebaskan dan kuat dalam hidup saya. Secara berangsur-angsur, saya menjadi lebih memahami banyak implikasinya, dan secara khusus saya mulai mengerti bahwa kesaksian itu memaklumkan bukan hanya KeEsaan Allah, melainkan juga kesatuan dan persamaan umat manusia. Tentu saja, temuan saya tentang hal ini sama sekali tidak orisinal (pengutip: maksudnya bukan asli konsep temuan atau buatan pengarang buku). Prinsip egalitarian ini adalah tema yang sangat menonjol dalam ajaran-ajaran Islam sehingga tidak mungkin dihilangkan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang muslim sangat siap untuk mengartikulasikannya. Akan tetapi, prinsip ini dapat diamati dengan jelas dalam tradisi dan interaksi keagamaan masyarakat muslim. Karena itu, sama sekali tidak mengejutkan bila ajaran ini menjadi salah satu hal yang pertama kali menarik Malcolm X dalam perjalanan ibadah hajinya ke Mekkah. Ia menulis,

“Selama sepekan terakhir, saya betul-betul tidak bisa berucap sepatah kata pun dan terpesona oleh keanggunan yang ditampakkan di sekeliling saya oleh manusa dari seluruh suku bangsa…
Anda boleh jadi terkejut mendengar kata-kata ini keluar dari saya. Tetapi, dalam perjalanan haji ini, apa yang telah saya lihat dan alami memaksa saya untuk menata ulang sebagian besar pola pemikiran yang sebelumnya saya pegang, dan membuang beberapa konklusi sebelumnya …
Barangkali jika orang-orang kulit putih Amerika bisa menerima KeEsaan Allah, mungkin juga mereka bisa menerima dalam kenyataannya kesatuan umat manusia – dan berhenti mengukur, menghalangi, dan mencelakakan orang lain karena “perbedaan” warna kulit mereka….
Setiap jam di tanah suci memungkinkan saya memperoleh pengetahuan spiritual yang semakin besar tentang apa yang sedang terjadi di Amerika antara orang-orang kulit hitam dan orang-orang kulit putih.”

Di sini, saya tidak menyatakan bahwa Islam menghapuskan prasangka-prasangka suku dan warna kulit. Klaim di atas lebih mengesankan bahwa Islam menghapuskan kejahatan. Sebaliknya, saya ingin menegaskan bahwa Islam tidak mentoleransi prasangka-prasangka semacam itu dan bahwa ketika kaum muslim menampakkannya, mereka sadar betul bahwa mereka melanggar ajaran yang fundamental dalam agama mereka dan melakukan sebuah kesalahan yang serius. Dari semua agama besar di dunia, saya yakin bahwa tidak ada agama yang lebih berhasil dalam memerangi prasangka ras selain Islam. Saya telah melihat pertunjukan kekuatan Islam dalam hal ini, yang sangat bersifat pribadi dan membangkitkan semangat, beberapa minggu setelah saya menjadi seorang muslim.

……

Waktu itu ada pengajian yang diorganisasi oleh para mahasiswa muslim University of San Fransisco. Pembicara malam itu adalah Abdul Aleem Musa, yang waktu itu adalah imam Mesjid an-Nur di Oaklan, California. Ia menuturkan perjalanannya memeluk Islam, yang dimulai saat ia bergabung dengan geralan Nation of Islam pada tahun enam puluhan dan ia kemudian beralih ke Islam otentik pada tahun tujuh puluhan. Orang-orang muslim Amerika keturunan Afrika Oaklan yang menyertainya dari Oaklan menunjukkan reaksi mereka atas ceramahnya bahwa jalan mereka menuju Islam sangat mirip dengan jalan Aleem.

Secara fisik, Abdul Aleem adalah seorang yang mengesankan. Ia kelihatan seolah-olah mampu bermain dengan ketat hingga akhir babak dalam permainan “San Fransisco Forty-Niners.” Ia sangat pandai dan cerdas, dan tentu saja bukan tipe orang yang bisa diremehkan. Dalam perjalanan menuju pengajian itu, beberapa mahasiswa memberitahu saya bahwa Abdul Aleem dulunya adalah anggota kelompok Black Panthers dan mantan narapidana. Saya biasanya mencurigai kabar angin seperti ini. Akan tetapi, dari pembicaraannya, saya merasa bahwa, paling tidak, ia memiliki masa lalu yang kelabu. Sekalipun demikian, kebijaksanaan kata-katanya dan ketenangan yang kini diperlihatkannya membuat saya merasa bahwa ia telah menemukan kedamaian batin melalui keimanannya.

Ketika saya mendengarkan Abdul Aleem, saya teringat masa-masa remaja saya dan brutalitas perang ras yang mengerikan antara lingkungan tetangga saya dengan para pemuda kulit hitam seperti dirinya, dari daerah kumuh yang berdekatan. Saya membayangkan betapa berbahayanya ia waktu itu sebagai musuh – tipe musuh yang setiap orang berusaha sebaik mungkin tidak melihatnya ketika ia memasuki wilayah Anda. Serentak saya merasa terinspirasi dan terancam, tersentuh tetapi juga bingung. Seluruh refleks dan rasa takut masa lalu yang saya pikir sudah lama saya tinggalkan di Bridgeport, Connecticut, kini kembali lagi datang kepada saya.

Pertanyaan pertama yang diajukan kepada Abdul Aleem ketika ia telah menyelesaikan ceramahnya berasal dari seorang mahasiswa Arab: “Apalah Islam telah benar-benar mengubah hidup Anda?”

Pertanyaan itu mungkin biasa-biasa aja, tetapi rupanya menyinggung masa lalunya yang kelabu. Paling tidak, itulah penafsiran saya dan, tampaknya, demikian juga perasaan Abdul Aleem.

“Anda tidak tahu, berapa kali sudah saya ditanya tentang soal yang sama,” ia menghela nafas, sambil menggelengkan kepalanya hampir tidak percaya. “Orang tidak mengira bahwa hal itu benar-benar bisa terjadi, bahwasanya Anda bisa mengubah hidup Anda.”

Ia berbicara pelan-pelan, mengukur kata-katanya, berusaha keras menguasai kebanggaannya yang terluka. Kemudian, dengan nada suara rendah yang memperlihatkan rasa frustasi memuncak, ia berkata, “Orang sungguh tidak percaya pada kekuatan Islam.”

Hadirin menjadi tegang dan menahan nafas, mengantisipasi luapan emosi yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Mata Abdul Aleem menyelidik ruangan, seolah-olah ia sedang mencari-cari orang yang mungkin bisa memahami atau membuktikan pandangannya. Tiba-tiba ia menatap Grant, seorang mualaf kulit putih Amerika lain yang duduk di sebelah kiri saya. Kejadian berikutnya yang saya tahu adalah: ia menunjuk kami berdua.

Ia berseru, hampir berteriak, “Fakta bahwa ada orang-orang kulit putih seperti mereka ini, duduk di sini dengan orang kulit hitam seperti kami, sebagai saudara – SAUDARA!!! – ketika sepuluh tahun lalu kami saling berbunuh-bunuhan di jalanan, menunjukkan kepada Anda sekalian betapa Islam dapat mengubah hidup!”

Seakan-akan ia dapat membaca pikiran saya. Grant dan saya adalah dari generasi yang sama dengan Abdul Aleem, dan raut wajah Grant mengatakan kepada saya bahwa ia dapat mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh Abdul Aleem. Setelah acara itu selesai, Abdul Aleem berjalan menghampiri kami berdua dan menyalami kami dengan tersenyum ramah dan dengan apa yang saya katakan “pelukan rangkat tiga Islam.” Itulah awal dari suatu hubungan yang amat penting bagi saya. Abdul Aleem menjadi sahabat dekat dan mentor saya, serta membantu saya menangani banyak jebakan dan kendala yang bisa mengancam keikhlasan seorang pendatang baru dalam Islam.

Ketika saya berjumpa Abdul Aleem, saya baru saja memeluk Islam dan masih memerlukan banyak waktu untuk mendalami ajaran-ajaran Islam. Akan tetapi, malam itu, saya banyak belajar tentang egalitarianisme Islam. Dan saya belajar lebih banyak dari Abdul Aleem dalam bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya.

sumber : eramuslim

Frithjof Schuon: Perjalanan Pencarian Islam Sang Filsuf

Posted November 24, 2010 by rabblevoice
Categories: Uncategorized

JAKARTA–Kalangan akademisi maupun mahasiswa filsafat dan orang-orang yang menggemari ilmu filsafat tentu mengenal sosok Fritjhof Schuon. Ya, dia adalah salah seorang ahli filsafat yang sangat terkenal. Tidak hanya di kalangan ilmuwan Barat, tapi juga cendekiawan Muslim.

Semasa hidupnya, Frithjof Schuon dikenal sebagai seorang filsuf sekaligus metafisikawan serta penulis berbagai buku bertema agama dan spiritualitas.

Namanya juga selalu dikaitkan dengan gagasannya yang tertuang dalam buku fenomenalnya berjudul The Transcendent Unity of Religions. Sebuah buku yang dijadikan rujukan oleh para penganut paham pluralisme agama.

Frithjof Schuon dilahirkan di Basel, Swiss, pada 18 Juni 1907. Ayahnya berdarah Jerman dan ibunya berasal dari Asaltia. Ayahnya adalah seorang pemain biola, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Masa kecilnya ia habiskan di Basel dan bersekolah di sana hingga kematian ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Schuon kecil bersama sang ibu memutuskan untuk hijrah ke Mulhouse, Prancis.

Ketika bermukim di Prancis inilah Schuon mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu filsafat. Salah satu tokoh filsuf yang amat dikaguminya adalah Rene Guenon, seorang filsuf berkebangsaan Prancis. Guenon yang juga merupakan seorang mualaf dikenal sebagai pelopor filsafat abadi.

Sejak usia 16 tahun, Schuon telah melahap berbagai karya Guenon, selain mengkaji karya-karya Plato. Lantaran terobsesi oleh pemikiran Guenon, Schuon memberanikan diri berkorespondensi dengan tokoh panutannya tersebut selama hampir 20 tahun lamanya. Kelak ia menjadi salah seorang tokoh penerus pemikiran Guenon.

Setelah menjalani wajib militer selama 1,5 tahun, Schuon memutuskan untuk hijrah ke Kota Paris. Di kota mode ini, ia mencoba bekerja sebagai desainer tekstil. Pada sela-sela waktu luangnya, Schuon mengikuti kelas bahasa Arab yang diselenggarakan di sebuah masjid di Paris.

Hidup di Paris telah memberikan kesempatan kepada Schuon untuk mengenal berbagai bentuk kesenian tradisional dari berbagai negara, khususnya Asia. Kecintaannya terhadap kesenian tradisional inilah yang kemudian membawanya berkelana hingga ke Aljazair pada 1932. Di sana ia bertemu dengan seorang sufi yang bernama Syekh Ahmad Al-Alawi.

Pada 1935, untuk kali kedua ia melakukan perjalana ke Afrika Utara. Kali ini tidak hanya Aljazair yang dikunjunginya, tetapi juga Maroko. Pengembaraannya ke wilayah Afrika Utara dilanjutkan dengan mengunjungi Mesir antara tahun 1938 dan 1939. Di sini, ia bertemu Guenon untuk pertama kalinya. Pada saat itulah, terjadi transfer ilmu dari guru kepada muridnya secara langsung.

Dari Mesir, ia meneruskan perjalanannya hingga ke negeri India. Di negeri-negeri yang telah dikunjunginya tersebut, Schuon banyak berjumpa dengan tokoh sufi Islam, Hindu, dan Buddha.

Pada 1939, sesaat setelah kedatangannya di India, Perang Dunia II meletus. Keadaan tersebut memaksanya untuk kembali ke Prancis dan mengabdikan diri dalam angkatan bersenjata Prancis. Keikutsertaannya dalam pasukan Prancis membuat dirinya menjadi tahanan perang Jerman. Ia pun mencari suaka ke Swiss.

Oleh pemerintah Swiss ia diberikan status kewarganegaraan Swiss dengan syarat ia harus menetap di sana selama 40 tahun. Pada 1949, ia menikahi seorang perempuan Swiss keturunan Jerman. Sang istri, selain memiliki ketertarikan yang sama dalam bidang agama dan metafisika, juga dikenal sebagai seorang pelukis yang berbakat.

Filsafat Islam
Bersama sang istri, Schuon melakukan perjalanan spiritual ke berbagai belahan dunia sampai ke Amerika Serikat (AS). Dari beberapa kunjungannya ke Amerika, mereka meneliti kehidupan suku India Crow. Pasangan suami istri ini pun sempat menjalani ajaran tentang ritual ibadah dan falsafah hidup suku India Crow.

Akan tetapi, dari sekian banyak ajaran filsafat yang dipelajarinya, ia tertarik dengan filsafat Islam. Hal ini pula yang pada akhirnya mendorong dirinya untuk berpindah keyakinan dan memeluk Islam.

Namun, tidak banyak data mengenai kebenaran tersebut dan yang menyebutkan kapan persisnya ia masuk Islam. Tetapi, disebutkan bahwa setelah menjadi seorang Muslim, ia mengganti namanya dengan Isa Nuruddin Ahmad al-Syazhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.

Dalam pandangan Schuon, Islam lebih baik dari Hindu karena agama ini memuat bentuk terakhir dari Sanatana Dharma. Ajaran Islam, menurutnya, tidak hanya memuat aspek esoterisme (mencakup aspek metafisis dan dimensi internal agama), tetapi juga aspek eksoterisme (mencakup aspek eksternal, dogmatis, ritual, etika, dan moral suatu agama). Sementara ajaran Hindu hanya mengedepankan salah satu aspek tersebut.

Tahun 1980, Schuon dan istrinya beremigrasi ke Indiana, Amerika Serikat. Ia bermukim di negeri Paman Sam ini hingga akhir hayatnya pada 1998. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 20 karya tulisan. Meski berbagai gagasan yang ia tuangkan melalui karya-karyanya ini banyak menuai kritikan dan perdebatan, namun hingga kini pemikirannya tersebut masih dipuji dan diikuti oleh sejumlah intelektual bertaraf internasional dan lintas agama.

sumber: republika

Ipar Mantan PM Inggris Lauren Booth Masuk Islam, Kini Rajin Shalat & Baca Al-Quran

Posted November 2, 2010 by rabblevoice
Categories: Mu'alaf

LONDON – Setelah berikrar dua kalimat syahadat 6 pekan lalu, kehidupan Lauren Booth sangat religius. Adik ipar mantan Perdana Meteri Inggris Tony Blair ini telah mengenakan jilbab, rajin shalat 5 waktu dan baca Al-Qur’an setiap hari. Laurent juga meninggalkan alkohol dan daging babi kesukaannya.

Lauren Booth, memutuskan masuk Islam setelah mendapatkan ‘pengalaman suci’ di Iran.  Penyiar dan jurnalis berusia 43 tahun itu menyatakan, sekarang dia mengenakan jilbab ketika keluar rumah, shalat 5 waktu sehari dan mengunjungi masjid bila ada kesempatan.

Dia memutuskan menjadi Muslimah 6 minggu lalu setelah mengunjungi Masjid Fatima Al-Masumeh di Kota Qom, Iran.

“Saat itu Selasa petang dan saya duduk dan merasakan suntikan semangat spiritual, hanya kebahagiaan mutlak dan sukacita,” katanya seperti dilansir media Inggris, The Mail, Minggu (24/10/2010). Setelah dia kembali ke Inggris, dia memutuskan pindah keyakinan.

….Sekarang saya tidak makan daging babi dan saya membaca Al-Qur’an setiap hari….

“Sekarang saya tidak makan daging babi dan saya membaca Al-Qur’an setiap hari. Sekarang saya sampai di halaman 60,” ujarnya.

“Saya juga belum  minum minuman beralkohol selama 45 hari, periode terpanjang selama 25 tahun. Hal yang aneh adalah bahwa sejak saya memutuskan untuk pindah agama, saya tidak ingin menyentuh alkohol, padahal saya adalah seorang yang mendambakan segelas atau dua gelas anggur di akhir hari,” bebernya.

Apakah nantinya dia akan mengenakan burka? “Siapa yang tahu di mana perjalanan rohani saya akan membawa saya?” jawabnya.

….Sejak saya memutuskan untuk pindah agama, saya tidak ingin menyentuh alkohol, padahal saya adalah seorang yang mendambakan segelas atau dua gelas anggur di akhir hari….

Sebelum mendapat pencerahan di Iran, Lauren telah ‘bersimpati’ pada Islam dan menghabiskan banyak waktu untuk bekerja di Palestina. “Saya selalu terkesan dengan kekuatan dan kenyamanan yang diberikan, “ katanya soal agama Islam.

Lauren, yang bekerja untuk Press TV, televisi siaran Iran berbahasa Inggris, merupakan penentang vokal perang Irak. Pada Agustus 2008 dia pergi ke Gaza dengan kapal dari Siprus bersama 46 aktivis lainnya, untuk menyoroti blokade Israel atas Gaza. Dia kemudian ditolak masuk Israel dan Mesir.

Pada 2006, dia merupakan kontestan reality show ‘I am A Celebrity… Get Me Out Of Here!’ di ITV dan mendonasikan fee-nya ke lembaga amal Palestina.

….Lauren berharap, perpindahan imannya menjadi seorang Muslimah itu bisa membantu Tony Blair, agar mengubah praduganya tentang Islam….

Ingin Meluruskan Pandangan Tony Blair tentang Islam

Lauren berharap, perpindahan imannya menjadi seorang Muslimah itu bisa membantu Tony Blair, yang memperistri kakak tirinya, Cherrie, mengubah praduganya tentang Islam. Tony Blair adalah pendukung George Bush dalam perang Irak.

Sebenarnya, sudah berkali-kali upaya yang dilakukan Lauren Booth untuk memperbaiki cara pandang Blair, termasuk di antaranya berupaya mengubah cara pandangnya terhadap Palestina dan Irak.

Bulan lalu, selama mengunjungi Iran, Lauren Booth menulis surat terbuka untuk Blair. Dia meminta menandai hari Al-Quds sebagai bentuk protes atas pendudukan Israel di Palestina.

Surat tersebut dianggap sebagai salah satu pil pahit bagi Blair yang sekarang menjadi utusan di Timur Tengah untuk perdamaian di wilayah konflik tersebut.

“Para pria, wanita, dan anak-anak di sekitar saya, bertahan sehari tanpa air dan makanan,” tulisnya.

….Selama mengunjungi Iran, Lauren Booth menulis surat terbuka untuk Blair. Surat tersebut dianggap sebagai salah satu pil pahit bagi Blair….

Masih dalam surat itu, dia menulis bahwa orang-orang di sekitarnya bisa mengatasi rasa lapar dan haus di tengah panas yang mencapai 100 derajat, seperti tak terjadi apa-apa. Mereka bisa bertahan di tengah kekurangan. Seperti itulah dunia Muslim.

Di sini, di Iran, mereka merasa bangga untuk menderita, sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap orang-orang Palestina. Ini seperti Anda menyatakan solidaritas terhadap Amerika. Hanya, tanpa senjata kimia ilegal dan sejuta kematian warga sipil, katanya keras.

Dia, dalam surat itu, menuding pandangan Blair seperti orang yang mengidap penyakit menular, karena Blair menyebut bahwa Muslim adalah gila, buruk, dan berbahaya.

Dalam bagian terakhir (dari otobiografi Blair), Anda mengatakan kita perlu serangan balik agama menghadapi Islam. Dan dengan Islam, yang Anda maksud adalah perjuangan Al-Quds, Intifadhah Palestina (berdasarkan perjuangan anti-Apartheid Tony, bukan fanatisme agama), menghadapi setiap Arab yang gagal untuk mengangkat tangan ke udara karena rudal F-16 menghujani rumah mereka, kamp pengungsian, tambahnya.

Sumber : VoE-Islam

Ipar Tony Blair yang Jadi Mualaf Mengaku Sedang Belajar Berjilbab

Posted November 1, 2010 by rabblevoice
Categories: Mu'alaf

Lauren Booth

LONDON–Mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair, mengumumkan dirinya memeluk Katolik setelah meninggalkan kantornya pada 2007. Tiga tahun kemudian, Lauren Booth, yang merupakan kakak tiri Cherie Blair, istri Tony, memutuskan untuk mengadopsi keyakinan baru, menjadi Muslim.

Berita Lauren menjadi mualaf lumayan menggemparkan publik Inggris. Media seolah berlomba memberitakan.

Kepada Daily Mail, Lauren yang menemukan hidayah di Iran mengaku tengah belajar berjilbab. Kini, tiap keluar rumah, ia mengulurkan pashmina menutupi kepalanya. “Saya juga meninggalkan alkohol. Ini adalah hari ke-45 saya tidak minum (minuman keras, red),” ujarnya.

Wanita 43 tahun dengan dua anak ini mengaku telah lama bersimpati dengan Islam. gayung bersambut saat enam pekan lalu ia berkesempatan berkunjung ke kota Qom, Iran. ‘Aku duduk dan merasakan ini suntikan morfin spiritual, di mana hanya ada kebahagiaan mutlak dan sukacita,” katanya. Mantan presenter TV inipun bertekad menjadi Muslim sekembalinya ke Inggris.

Lauren adalah seorang wartawan dan aktivis hak asasi manusia. Selain berhenti mengonsumsi alkohol dan belajar mengenakan jilbab, ia juga mengaku , telah berhenti makan daging babi. “Aku belajar membaca Alquran hampir tiap hari,” tambahnya.

Saat ditanya tentang cadar, ia mengaku tidak antipati terhadap pakaian yang menutupi seluruh tubuh hingga muka itu. “Tak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang aku akan tampil seperti itu,” ujarnya.

Lauren bekerja untuk Press TV, saluran berita berbahasa Inggris. Ia mengenakan jilbab ketika tampil di TV.

Konversi Lauren terjadi di tengah bergolaknya kehidupan pribadinya. Selama pernikahannya dengan aktor Craig Darby, ia mengaku batinnya tak tenteram. Kini setelah menganut Islam, ia menemukan kedamaian. “Pandangan dunia tentang Islam selama ini tidak benar dan terlalu sok tahu,” ujarnya.

Konversi nya disambut di forum internet Muslim. Satu posting menuliskan: “Sekarang penjahat perang memiliki adik yang tercerahkan! Tuhan memberkati dia! ”

Tapi tidak semua komentar sangat menguntungkan. Posting lain menulis: “Lauren Booth sangat membutuhkan perhatian, itu saja.”

Namun lepas dari semua komentar itu, Lauren mengaku ia beroleh kedamaian saat ini, dibalik balutan busana Muslimah. “Menyejukkan,” ujarnya.

http://www.republika.co.id

Budi Kristyanto: Dari Vatikan Hingga Khilafah

Posted December 16, 2009 by rabblevoice
Categories: Mu'alaf

Vatikan yang hanya mengurus masalah ibadah atau kerohanian saja, sudah begitu solidnya. Apalagi kalau Khilafah muncul lagi. Aku anak ketiga dari tujuh bersaudara. Terlahir di tengah keluarga Kristen Katolik yang taat di Jakarta pada 23 Desember 1979 dengan nama Ignatius Budi Kristyanto. Setiap Minggu aku rajin ke gereja. Bahkan rumahku pun sering dijadikan tempat koor teman-teman orang tuaku. Ayah mendidik anak-anaknya untuk terbuka dan kritis. Tidak menelan mentah-mentah informasi apalagi yang terkait dengan keyakinan. Apa yang menjadi gejolak pencarian kebenarannya selalu dilempar pula ke anak-anaknya termasuk aku, padahal aku masih SD. Ia pun menceritakan dialognya dengan Romo di gereja. “Yesus itu siapa? Kalau Yesus adalah Tuhan mengapa ia diciptakan? Mengapa Tuhan ada tiga? Padahal dalam Bible sendiri Yesus tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Sayangnya Romo selalu menjawab seperti ini: “Jika saya jawab keimanan kamu akan menurun”. “Itu jawaban tidak bijak,” ujar ayah. Sehingga aku menjadi ikut berpikir. Sejak saat itu pun aku mulai meragukan trinitas dan mulai meyakini Yesus bukan Tuhan. Kecewa Meskipun nyebelin, karena mereka suka nyentil-nyentil masalah keimanan, aku sering sekali bergaul dan bertukar pendapat dengan teman-teman Muslim padahal kami masih SD. Ada satu omongan dari temanku yang tidak sengaja kudengar. Rupanya mereka cemburu sama umat Katolik, yang membangun gereja. “Di sana tiba-tiba ada gereja gede, itu dari Vatikan paling,” ujarnya kepada teman yang lain. Aku pun menimpali, “Lho memang kenapa kalau dari Vatikan , itu kan dari pimpinan agamanya sendiri dari Roma sampai ke sini bisa memberikan dananya, itu kan hebat banget berarti kan umat Katolik solid, nah kenapa kamu nggak punya?”. Ketika aku kelas 1 SMP ayahku masuk Islam. Aku agak sedikit kecewa, mengapa ayah masuk Islam sehingga dalam keluarga ada dua agama. “Biar tidak dua agama ya semuanya masuk Islam dong,” kata ayahku. Tentu saja aku menolak. Ibu dan saudaraku pun demikian. Karena saat itu aku menganggap bahwa sebuah agama itu dilihat dari umatnya bukan dari ajaran dalam kitab sucinya. Aku lihat umat Islam itu kan miskin, suka cekcok, banyak yang jadi pencuri. Sedangkan umat Katolik itu solid atau guyub. Misalnya saat koor, menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan. Dan sering banget koor tersebut diadakan di rumahku. Aku melihat kok solid banget, kesannya tidak dikoordinir kok kompak banget. Ada yang bawa makanan, nyumbang uang dan lainnya padahal tidak diminta. Aku pun tidak pernah melihat bila ada gereja dibangun dan panitia pembangunan gereja minta sumbangan di jalan-jalan. Kesolidan semacam itu tidak aku lihat di umat Islam. Itulah yang menjadi rem bagiku sehingga tidak kunjung masuk Islam. Meskipun berulang kali ayah sering mengatakan bahwa Bible itu isinya beda tahun terbitan ya berubah. Jadi sudah tidak asli lagi. Aku tetap bersikukuh. Masuk Islam Kelas 1 SMA, aku berpikir lagi lantas aku ini umat apa? Islam bukan Katolik juga bukan. Wah jadi umat yang bukan-bukan dong. Berarti ini ada yang salah. Apakah aku belum memahami Katolik secara menyeluruh atau belum memahami Islam secara menyeluruh. Aku pun memperhatikan aktivitas di mushala sekolah, suasananya memupus stigma negatifku tentang Islam. Dan mungkin ini agak tidak rasional ya, di mushola tersebut terasa sejuk, padahal udara di sekitar begitu panas. Suasana mushala betul-betul hidup, tempat mungil itu tidak hanya untuk shalat tetapi digunakan juga untuk diskusi dan belajar. Ternyata mereka pun guyup! Aku pun memutuskan turut dalam diskusi itu. Aku sampaikan masalahku. Dengan gamblang mereka menjelaskan bahwa Tuhan atau Allah itu tidak beranak tidak pula diperanakkan, Allah itu berbeda dengan makhluk. “Kalau kamu melihat ajaran agama itu dari umatnya, untuk saat ini, kamu pasti akan melihat tidak ada satu pun agama yang benar di dunia ini,” ujar salah satu teman sekolahku itu. Dia pun mencontohkan ketika seseorang itu salah belum tentu kesalahan itu terjadi karena orang tersebut sedang mengamalkan agamanya. Di Indonesia banyak pencuri beragama Islam itu karena di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Coba tengok Filipina, di penjaranya dipenuhi pencuri yang beragama Kristen. “Apakah Kristen mengajarkan umatnya mencuri? Kan tidak, begitu juga Islam,” ujarnya. Jadi kalau mau tahu ajaran itu benar atau salah harus langsung merujuk kepada sumber ajaran itu sendiri, yakni kitab sucinya. Pas aku baca Alquran dan mempelajari Islam lho ternyata di Islam pun mengajarkan kasih sayang dan moralitas lainnya yang ada di Katolik. Ya penjelasannya memang mirip dengan penjelasan ayah. Namun pikiranku baru terbuka ketika diskusi dengan mereka. Cocok dong dengan Katolik. Tapi Islam ada kelebihannya, pikirku, karena masalah ketuhanan Islamlah yang benar! Maka aku pun langsung masuk Islam. Alhamdulillah, akhirnya keluargaku semua masuk Islam. Setahun setelah lulus kuliah, tepatnya pada tahun 2005 aku menikah. Alhamdulillah pemahamanku tentang Islam semakin membaik. Karena istriku banyak menyampaikan apa-apa yang dia pahami tentang Islam. Awalnya aku selalu mendebat tetapi jawabannya mematahkan argumenku. Jawabannya mencerahkanku, ternyata Islam tidak seperti yang aku kira selama ini. Aku kagum, olok-olokanku waktu SD itu, “mengapa kamu tidak punya Vatikan!” ternyata umat Islam itu dulu punya. Sekarang umat Islam menjadi begini karena institusi tersebut sudah tidak ada. Institusi tersebut disebut dengan Khilafah Islam. Untuk memahami Islam lebih dalam aku pun turut mengaji. Vatikan yang hanya mengurus masalah ibadah atau kerohanian saja, sudah begitu solidnya. Apalagi kalau Khilafah tegak lagi. Karena Khilafah mengurus juga masalah pendidikan, ekonomi, politik, sistem pergaulan, pemerintahan dan lainnya yang semuanya itu bersumber dari Alquran dan Sunnah. Subhanallah. (Sumber: Swaramuslim)

Dowdload: Yesterday-Beatles.mp3

Yesterday - The Beatles


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: